RizmaImot
so hard!
BEST FRIENDS PART II
BEST FRIENDS PART I
I‘m feeling jealous !!!!
sosok seorang ahok patut kita conto. Beliau adalah pemimpin yang sangat bijak dan adil.. lanjutkan pengabdianmu Ahok untuk memberantas korupsi dan memajukan Indonesia. khususnya Jakarta :)
semangaaaaaaaaaattttttttttttttttttttttttttttttt
Familiar dengan gambar di atas?
Yah, itu patung Cadas Pangeran lama yang telah menjadi salah satu ikon kota Sumedang. Dulu mereka tidak berada disini melainkan tepat di sebuah persimpangan jalan, menjadi pemisah antara jalan Cadas Pangeran atas dan bawah. Dulu mereka tidak pagigir-gigir seperti ini melainkan saling bersalaman, tangan kiri Pangeran Kornel menyalami tangan kanan Daendles. Konon, adegan tersebut merupakan sebuah simbol perlawanan pemimpin Sumedang terhadap penjajah.Kini, patung legendaris tersebut telah dikudeta eksistensinya oleh patung baru yang lebih besar berbanderol sekitar 250 juta rupiah. Dipahat oleh seorang seniman dari Bali lulusan ITB, Gustiyan Rachmadi, S.Sn, M.Sn serta diresmikan Don Murdono pada tanggal 29 Desember 2012.
Sementara patung CP lama dibuat pada masa pemerintahan Bupati Sutarja sekitar tahun 1987-1988, pematungnya bernama Chaltim warga Paseh Sumedang.
Posisi patung CP yang baru ini, saya pikir kurang strategis, berada lebih kebelakang dari posisi patung lama, terhalang rambu lalin dan lampu PJU. Sekilas, kita tidak akan menyadari keberadaan patung baru tersebut.
Berita terakhir, patung CP lama sedang dalam wacana untuk dipindahkan ke sekitar komplek Gedung Negara. Beberapa pihak seperti Yayasan Pangeran Sumedang (YPS) menilai keberadaannya di kampus Faperta Unwim kurang tepat karena tidak ada muatan historis yang kental.
Yah, kita liat aja akhirnya nanti seperti apa. Cuma saya masih nasteung kenapa patung CP lama harus dibongkar dengan cara dipotong seperti itu… deuuuh pemerentah, pemerentah…
Dipatungkan Mucul Keganjilan, Mungkinkah Lantaran Sejarahnya Salah?
Kejadian ganjil dan aneh menyelimuti proses pengerjaan dan pascarampungnya patung Pangeran Kornel ditempatkan di persimpangan jalan Cadas Pangeran. Apakah itu sinyalemen penentangan dimensi lain, lantaran cerita sejarahnya keliru?
Tempat patung Pangeran Kornel berada sekarang, di persimpangan jalan Cadas Pangeran, di tengah masyarakat sekitar menyimpan cerita yang menjadi mitos tersendiri. Kendati mereka tidak tahu pasti kebenaran sejarahnya seperti apa. Rupanya keberadaan patung yang berangkat dari mitos itu menciptakan mitos lagi yang sampai sekarang berkembang di tengah-tengah masyarakat.
Suatu hari seorang remaja putri yang lagi kasmaran meminta pada pacarnya untuk difoto di patung tersebut. Pacarnya pun mengabulkan dan akhirnya mengabadikan keinginan kekasihnya itu berpoto dengan naik untuk mendapatkan latar berjabattangan patung tersebut.
Namun, sepulangnya dari Cadas Pangeran sepasang kekasih itu langsung jatuh sakit. Itu sepenggal kisah yang santer berkembang di masyarakat, yang menciptakan mitos tersendiri setelah dibuatnya patung itu pada masa pemerintahan Bupati Sutardja pada tahun 1987.
Cerita yang sama pula muncul saat patung itu dibuat dan bisa berdiri menggah di sana. Tahun 1987 tiap instansi pemerintah diwajibkan memberikan karya terbaiknya untuk dipajang mempercantik sudut kota Sumedang.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumedang (sekarang Dinas Pendidikan,red), akhirnya menyumbangkan karya terbaiknya berupa patung Pangeran Kornel yang berjabattangan dengan orang yang disebut Daendels tersebut. Kini orang itu masih ingat betul proses pengerjaan sampai selesainya patung itu.
Caltim Prananjaya adalah pembuat patung tersebut, yang kini duduk sebagai Kasi Budaya Disbudparpora. Ia mendapatkan tugas dari kantornya untuk mengerjakan patung tersebut dalam waktu secepat mungkin. Dengan dibantu beberapa orang lainnya, dalam waktu satu bulan patung itu akhirnya rampung.
Selama proses pengerjaan, Caltim mengakui dirinya hanya menjalankan perintah, semua sumber referensi pengerjaannya dari Yayasan Pangeran Sumedang. Bahkan, waktu itu cerita Caltim, yayasan sampai terlibat langsung dan kerap datang ke tempat pengerjaannya yang dibuat di rumah Caltim di Tomo.
“Waktu itu belum ada hasil penelitian seperti ini,” komentar Caltim setelah membaca makalah Djoko Marihandono yang menyimpulkan sosok yang berjabattangan dengan Pangeran Kornel bukanlah Daendels seperti cerita sejarah yang berkembang sampai beberapa generasi terakhir ini.
Keanehan pun menyelimuti pascarampungnya patung dan berhasil ditempatkan di persimpangan jalan Cadas Pangeran. Waktu itu, sebanyak tidak kurang dari 48 orang pemuda yang ikut membantu mendirikan patung itu langsung mengalami kesurupan. “Entahlah, kami pun waktu itu tidak berbuat yang aneh-aneh.
Hanya saja dari yayasan menyarankan kepada kami untuk berziarah ke makam Pangeran Kornel yang berada di Kompleks Pemakaman Pasarean Gede. “Anehnya lagi setelah ziarah semua orang yang kesurupan kembali sadar,” terang Caltim yang masih terheran-heran. Apakah mungkin, kesurupan itu lantaran salah cerita sejarahnya.
Sampai saat ini, di patung tersebut masih sering disuguhi sesajen. Seperti dituturkan, Asep, 28, warga sekitar patung yang membuka usaha tambal ban tidak jauh dari patung tersebut. Menurutnya, setiap malam Selasa, kerap ada orang yang menaruh sesajen di bawah patung tersebut. “Kami pun dulu juga sering ikut memberikan sesaji disitu berupa tape singkong bakar,” aku Asep yang kini tidak lagi menaruh sesaji.
Asep mengakui kalau dulu di awal-awal berdirinya patung di persimpangan jalan tersebut banyak hal ganjil. Asep dan orang-orang sekitar patung itu kerap memperingatkan jika ada orang yang akan berbuat aneh-aneh dipatung tersebut. “Misalnya kalau ada yang mau naik ke patung itu, saya peringatkan agar mengurungkan niatnya,” tambah Asep. Sebab dulu sempat, cerita Asep ada anak remaja naik ke patung tersebut lalu entah kenapa ia menampar wajah patung yang dianggap Deandels tersebut. “Setelah turun ia sontak tereseok-seok ke kiri dan ke kanan seperti orang yang ditampar berkali-kali,” tutur Asep.
Lantas apa hubungannya kejadian-kejadian ganjil dan temuan hasil penelitian dosen UI tersebut. Apakah lantaran cerita sejarahnya keliru?